30 November 2009
Ditulis dalam Uncategorized tagged TREN KAOS DISTRO pada 3:16 pm oleh royers
Ketika Seni Grafis Mejeng di Badan

Sekitar awal 2000-an, tren fashion di kalangan anak muda dimeriahkan oleh munculnya tren “kaos distro”. Tren ini menggeser tren factory outlet (FO) sebelumnya. Belum trendi kalau belum memakai kaod distro, begitu kata anak muda jaman sekarang.
Oblong yang dijual lewat took fashion kecil ini memang banyak peminat. Bahkan, pada masa-masa tertentu, system antrian masuk diberlakukan oleh toko tersebut untuk mengatasi membludaknya pembeli. Kaos distro sebutan umumnya, bahannya tak berbeda dengan kaos oblong lainnya. Namun, sisi idealis dan seni dari kaos ini memang sangat kental. Ini juga bukan kaos oblong lain dimana sebuah desain dicetak secara missal dan disalurkan ke banyak tempat. Setiap desain kaos selalu diproduksi secara eksklusif, dengan jumlah terbatas.
Untuk penyuka seni grafis, kaos distro layaknya karya seni “berjalan” ketiak dipakai konsumennya. Desainnya memang tak dibuat secara asal, karena umumnya setiap prudusennya memiliki desainer khusus untuk produknya. Mereka selalu mengejar ide-ide orisinil dalam karyanya, karena itu tindakan tiru-meniru sering kali dipantangi.
Ciri khas lain dari kaos distro ini adalah kaitannya yang sangat erat dengan suatu komunitas tertentu, seperti musik, olah raga ekstrim (skateboard, surfing, dan sebagainya), hingga grafis. Tren itu pun tumbuh subur dikalangan komunitas tersebut.
Muncul Karena Krisis

Kaos distro sebenarnya fenomena kebangkitan industri busana local yang digawangi (umumnya) oleh anak muda, dengan aneka gaya “kebebasan” desain. Sedikit banyak, tren ini dipicu oleh seni grafis. Para anak muda pecinta seni ini akhirnya menggunakan media kaos untuk menumpahkan ide-idenya.
Selain itu, mereka memang sengaja membidik peluang bisnis. Pada masa itu, sekitar pertengahan 90-an, ketika krisis ekonomi terjadi, kaos-kaos trendi impor melambung harganya. Hal ini membuka peluang para pecinta kaos oblong grafis untuk secara mandiri membuatnya.
Berawal dari industri “iseng-iseng” yang kemudian diminati banyak orang, lalu produksipun meningkat. Daya tarik kaos distro diproduksi secara limited untuk setia desainnya, dan desainnya yang apik, gaul, dan umumnya unik membuat penyukanya semakin banyak. Maklum, tidak pasaran.
Tren ini bermula dari bandung, yang sejak dulu memang terkenal sebagai sentra industri garmen/ konveksi. Setelah tren FO berakhir, kota kembang kemudian dilanda wabah distro. Distro singkatan dari distribution outlet hanya sebuah toko kecil tempat menjual barang-barang (umumnya busana dan aksesorisnya) titipan. Tak beda dengan depertement store, Cuma rata-rata skalanya sebatas butik. Begitu populernya sampai-sampai bagi sebagian besar anak muda, rasanya belum ke bandung, jika belum kedistro.
Kaos grafik yang dikenal sebagai kaos distro adalah salah satu produk yang dijual, selain kemeja, celana, tas, hingga sepat. Tapi sebenarnya kekuatan fenomena ini sebenarnya bukan di distro, melainkan pada penitipan produk (yang umumnya disebut clothing company) Clothing company sering disingkat clothing yang merupakan sebutan untuk produsen produk yang memiliki brand (merek) produk busana.
Clothing dan distro tidak bias dipisahkan, karena di distro para pemilik clothing menitip jual barang. Beberapa clothing yang terbilang sudah mapan memiliki distro dengan plang nama brand-nya sendiri, serta menerima titipan produk dari clothing lain.
Permalink
Ditulis dalam Elektro tagged Bahaya Listrik, Bahaya listrik bagi manusia, listrik manusia pada 2:07 pm oleh royers
Pada satu sisi, dalam menjalankan aktivitas sehari-hari kita sangat membutuhkan daya listrik. Namun pada sisi lain, listrik sangat membahayakan keselamatan kita kalau tidak dikelola dengan baik. Sebagian besar orang pernah mengalami/merasakan sengatan listrik, dari yang hanya merasa terkejut saja sampai dengan yang merasa sangat menderita. Oleh karena itu, untuk mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan, kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya listrik dan jalan yang terbaik adalah melalui peningkatan pemahaman terhadap sifat dasar kelistrikan yang kita gunakan.
Bahaya listrik dibedakan menjadi dua, yaitu bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer adalah bahaya-bahaya yang disebabkan oleh listrik secara langsung, seperti bahaya sengatan listrik dan bahaya kebakaran atau ledakan.

Sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya-bahaya yang diakibatkan listrik secara tidak langsung. Namun bukan berarti bahwa akibat yang ditimbulkannya lebih ringan
dari yang primer. Contoh bahaya sekunder antara lain adalah tubuh/bagian tubuh terbakar baik langsung maupun tidak langsung, jatuh dari suatu ketinggian, dan lain-lain.

1. Dampak Sengatan Listrik Bagi Manusia
Dampak sengatan listrik antara lain adalah:
• Gagal kerja jantung (Ventricular Fibrillation), yaitu berhentinya denyut jantung atau denyutan yang sangat lemah sehingga tidak mampu mensirkulasikan darah dengan baik. Untuk mengembalikannya perlu bantuan dari luar.
• Gangguan pernafasan akibat kontraksi hebat (suffocation) yang dialami oleh paruparu.
• Kerusakan sel tubuh akibat energi listrik yang mengalir di dalam tubuh,
• Terbakar akibat efek panas dari listrik
2. Tiga Faktor Penentu Tingkat Bahaya Listrik
Ada tiga faktor yang menentukan tingkat bahaya listrik bagi manusia, yaitu tegangan (V), arus (I) dan tahanan (R). Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi antara satu dan lainnya yang ditunjukkan dalam hukum Ohm.
Tegangan (V) dalam satuan volt (V) merupakan tegangan sistem jaringan listrik atau sistem tegangan pada peralatan. Arus (I) dalam satuan ampere (A) atau mili- ampere
(mA) adalah arus yang mengalir dalam rangkaian, dan tahanan (R) dalam satuan ohm, kilo ohm atau mega ohm adalah nilai tahanan atau resistansi total saluran yang tersambung pada sumber tegangan listrik. Sehingga berlaku:
I = V/R; R= V/I; V= I x R
Bila dalam hal ini titik perhatiannya pada unsur manusia, maka selain kabel (penghantar), sistem pentanahan, dan bagian dari peralatan lain, tubuh kita termasuk bagian dari tahanan rangkaian tersebut

Tingkat bahaya listrik bagi manusia, salah satu faktornya ditentukan oleh tinggi rendah arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh kita. Sedangkan kuantitas arus akan ditentukan oleh tegangan dan tahanan tubuh manusia serta tahanan lain yang menjadi bagian dari saluran. Berarti peristiwa bahaya listrik berawal dari sistem tegangan yang digunakan untuk mengoperasikan alat. Semakin tinggi sistem tegangan yang digunakan, semakin tinggi pula tingkat bahayanya. Jaringan listrik tegangan rendah di Indonesia mempunyai tegangan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.5 dan sistem tegangan yang digunakan di Indonesia adalah: fasa-tunggal 220 V, dan fasa-tiga 220/380 V dengan frekuensi 50 Hz. Sistem tegangan ini sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan manusia.
(a) Fasa-Tunggal

(b) Fasa-Tiga

Permalink