19 Desember 2009
Mengoperasikan Motor 3 Fasa Dengan Sistem Pengendali Elektromagnetik
Kali ini saya akan memberikan sedikit materi tentang bagaimana cara dan proses kerja System Kendali Elektromagnetik pada motor induksi 3 fasa. Tetapi sebelumnya terlebih dahulu kita perlu mengetahui cara kerja dari sebuah motor 3 fasa.
Cara kerja motor 3 fasa :
- Motor 3 phasa akan bekerja/ berputar apabila sudah dihubungkan dalam hubungan tertentu.
- Mendapat tegangan (jala-jala/ power/ sumber) sesuai dengan kapasitas motornya.
1. Motor 3 fasa bekerja dengan 2 hubungan yaitu :
a. Motor bekerja Bintang/ Star
Berarti motor harus dihubungkan bintang baik secara langsung pada terminal maupun melalui rangkaian kontrol.
Gambar 1. Hubungan Bintang/ Star (Y)
b. Motor bekerja segitiga /Delta (▲)
Berarti motor harus dihubungkan segitiga baik secara langsung pada terminal maupun melalui rangkaian kontrol. Kecuali mesin-mesin yang berkapasitas tinggi diatas 10 HP, maka motor tersebut wajib bekerja segitiga (▲) dan harus melalui rangkaian kontrol star delta baik secara mekanik, manual, PLC.
Gambar 2. Hubungan Delta (▲)
Dimana bekerja awal (start) motor tersebut bekerja bintang hanya sementara, selang berapa waktu barulah motor bekerja segitiga dan motor boleh dibebani.
Cara menghubungkan motor dalam hubungan bintang (Y) :
- Cukup mengkopelkan/ menghubungkan salah satu dari ujung-ujung kumparan phasa menjadi satu.
- Sedangkan yang tidak dihubungkan menjadi satu dihubungkan kesumber tegangan.
Cara menghubungkan motor dalam hubungan segitiga (▲) :
- Ujung pertama dari kumparan phasa I dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan phasa III
- Ujung pertama dari kumparan phasa II dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan phasa I
- Ujung pertama dari kumparan phasa III dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan phasa II.
Mengapa motor harus dihubungkan dengan Star – Delta???
- Beban dengan inersia yang tinggi/ besar akan menyebabkan waktu starting motor menjadi lama untuk mencapai kecepatan nominalnya.
- Selama periode starting tersebut, maka pada stator dan rotor akan mengalir arus yang besar sehungga bisa terjadi pemanasan berlebih (overheating) pada motor
- Lebih buruk lagi menyebabkan gangguan pada sistem jala-jala sumber listriknys sehingga akan menurunkan tegangannya. hal ini akan mengganggu beban listrik lainnya.
- Untuk menghindari hal tersebut, suatu motor induksi seringkali di start dengan level tegangan yang lebih rendah dari tegangan nominalnya.
- Pengurangan tegangan starting tersebut akan membatasi dayas yang diberikan ke motor, namun demikian disis lain pengurangan tegangan ini akan berdampak memperpanjang waktu/ periode starting (waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan nominalnya).
2. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa
Rangkaian sederhana dengan menggunakan kontaktor magnet yaitu mengontrol sebuah motor listrik. Pengontrolan oleh kontaktor magnet menggunakan 2 rangkaian yaitu rangkaian kontrol dan rangkaian utama. Peralatan kontrol yang digunakan dalam pengoperasianya yaitu, MCB 3 fasa, TOR (Thermal Overload Relay), sakelar tekan ON/ OFF dan kontaktor.
Rangkaian kontrol merupakan rangkaian yang mengendalikan/ mengoperasikan rangkaian utama, sedangkan rangkaian utama merupakan aliran hubungan ke beban (motor 3 fasa). Rangkaian utama menggunakan kontak utama (1-3-5 dan 2-4-6) dari kontaktor magnet untuk menghubungkan/ memutuskan jaringan dengan motor listrik. Karena arus yang mengalir pada rangkaian utama relaitf lebih besar daripada rangkaian kontrol, maka pada rangkaian utama dilengkapi dengan TOR (Thermal Overload Relay) atau pengaman beban lebih dari hubung singkat ataupun beban yang lebih.
Pada rangkaian kontrol, arus yang mengalir relatif kecil. Rangkaian kontrol dilengkapi dengan sakelar tekan NO untuk tombol NP dan NC untuk tombol OFF. Karena menggunak open.an tombol (sakelar) tekan, maka pada tombol ON dibuat pengunci (sakelar bantu) dari kontak bantu kontaktor yang normally open.
Gambar 3. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa
2. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa Hubungan Bintang Segitiga
Rangkaian daya hubungan bintangsegitiga menggunakan tiga buah kontaktor Q1, Q2, dan Q3 Gambar 4. Fuse F1 berfungsi mengamankan jika terjadi hubungsingkat pada rangkaian motor. Saat motor terhubung bintang kontaktor Q1 dan Q2 posisi ON dan kontaktor Q3 OFF. Beberapa saat kemudian timer yang disetting waktu 60 detik energized, akan meng-OFF-kan Q1, sementara Q2 dan Q3 posisi ON, dan motor terhubung segitiga. Pengaman beban lebih F3 (thermal overload relay) dipasangkan seri dengan kontaktor, jika terjadi beban lebih disisi beban, relay bimetal akan bekerja dan rangkaian kontrol berikut kontaktor akan OFF.
Tidak setiap motor induksi bias dihubungkan bintang-segitiga, yang harus diperhatikan adalah tegangan name plate motor harus mampu diberikan tegangan sebesar tegangan jala-jala (Gambar 4), khususnya pada saat motor terhubung segitiga. Jika ketentuan ini tidak dipenuhi, akibatnya belitan stator bisa terbakar karena tegangan tidak sesuai. Rangkaian kontrol bintang-segitiga (Gambar 4), dipasangkan fuse F2 untuk pengaman hubung singkat pada rangkaian kontrol.
Gambar 4. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa Hubungan Bintang Segitiga
Hubungan Bintang
Tombol S2 di-ON-kan terjadi loop tertutup pada rangkaian koil Q1 dan menjadi energized bersamaan dengan koil Q2. Kontaktor Q1 dan Q2 energized motor terhubung bintang. Koil timer K1 akan energized, selama setting waktu berjalan motor terhubung bintang.
Hubungan Segitiga
Saat Q1 dan Q2 masih posisi ON dan timer K1 masih energized, sampai setting waktu berjalan motor terhubung bintang. Ketika setting waktu timer habis, kontak Normally Close K1 dengan akan OFF menyebabkan koil kontaktor Q1 OFF, bersamaan dengan itu Q3 pada posisi ON. Posisi akhir kontaktor Q2 dan Q3 posisi ON dan motor dalam hubungan segitiga. Untuk mematikan rangkaian cukup dengan meng-OFF-kan tombol tekan S1 rangkaian kontrol akan terputus dan seluruh kontaktor dalam posisi OFF dan motor akan berhenti bekerja. Kelengkapan berupa lampu-lampu indikator dapat dipasangkan, baik indikator saat rangkaian kondisi ON, maupun saat saat rangkaian kondisi OFF, caranya dengan menambahkan kontak bantu normally open yang diparalel dengan koil kontaktor dan sebuah lampu indicator.









uki berkata,
15 Januari 2010 pada 1:11 pm
beri rangkumannya
ok
uki berkata,
15 Januari 2010 pada 1:14 pm
gambarnya kurang besar n jelas
arsal_83 berkata,
20 Januari 2010 pada 4:17 am
makasih bos, smoga bguna buat saya
fajar adityara berkata,
24 Januari 2010 pada 11:49 am
wah ini gambar udah cukup jelas . makasih yah . jadi juga saya uji kompetensi dengan rangkaian star delta .
inu berkata,
29 Januari 2010 pada 1:26 pm
bisa ga dijelaskan cara mengetahui jenis kontaktor (amper kontaktor terhadap amper motor = Ith) yang ideal untuk dipakai dalam perancangan hubungan bintang segitiga diatas.
royers berkata,
11 Maret 2010 pada 1:44 pm
spesifikasi yang harus diperhatikan yaitu kemampuan daya harus sesuai dengan beban yang dipikul pada motor, tegangan, frekuensi dan arusnya.
tpi untuk mengetahui kapasitas I untuk kontaktor terhadap beban dapat diketahui dengan rumus = 125 % x In. misalnya In motor 27,5 A. maka kontaktor yang harus dipakai th = 125 % x 27,5 = 34,37 A. maka dapat dipakai kontaktor dengan kapasitas I sebesar 50 A.
hari prasetyo berkata,
15 Februari 2010 pada 2:18 am
makasih yuph,,,
tapi kurang lengkap bozz
royers berkata,
24 Februari 2010 pada 12:42 pm
terimakasih buat komentarnya…
segera mungkin akan dilengkapi….
gustaf berkata,
26 Februari 2010 pada 1:58 pm
salam kenal bos…..numpang copy paste neh buat artikelnya yang bagus banget…….
budic berkata,
27 Februari 2010 pada 4:06 am
anda benar…..!
neni lesningati berkata,
27 Februari 2010 pada 4:12 am
penjelasan dah lengkap, tp msh bingung..
royers berkata,
6 Maret 2010 pada 1:11 pm
pelan2 ja, ntr jga pasti lama2 ngerti kok….
yohanis wawi berkata,
2 Maret 2010 pada 2:16 pm
terima kasih ya,,,cukup buat saya tetang penjelasannya..dari Kupang NTT
royers berkata,
6 Maret 2010 pada 1:09 pm
terimakasih kembali dh singgah di blog saya…
salam kenal..
efendi berkata,
7 Maret 2010 pada 4:38 am
makasih bozzz mga bermanfaat. tp untuk aplikasi yang laenya mana…. kok cmak DOL dan START DELTA….
royers berkata,
11 Maret 2010 pada 1:47 pm
terimakasih buat komennya lae efendi, nanti kita lengkapi lagi…
^_^
Ary berkata,
17 April 2010 pada 3:32 pm
stardelta
muji pena berkata,
22 Juni 2010 pada 6:05 am
jadi inget lagi nh…dah lama ga pegang,mtor 3 phse.
imron berkata,
31 Juli 2010 pada 12:44 am
Gambarnya dah bagus bos, Tolong beri penjelasan atau cara kerjanya.
andri berkata,
22 Agustus 2010 pada 9:13 am
bos numpang baca,aku mau belajar lagi neh,kalau ada ilmu baru kasih tau ya
deka berkata,
22 Agustus 2010 pada 2:25 pm
sory boz ! gw kurang mngrti klw untk baca diagram wiring .
klo bisa di gambar’n manual nya aja .
biar mudah di phami .
thank’s
kharisun berkata,
28 Oktober 2010 pada 1:13 pm
artkelX bgus, tp foto untuk hbungan DELTA agak membingungkan,,,,
awe berkata,
5 Desember 2010 pada 5:05 pm
akan lbih amtap jka sbelum ke motor melewati TOL (Thermal Over Load) jd sbagai pngaman, bila over voltage so motor ga rusak
septian Budiman berkata,
15 Desember 2010 pada 5:28 am
info yang menarik mas =)
sherrind berkata,
1 Januari 2011 pada 5:36 am
thanks bozz buat artikelnya…
cuma saran aja…tolong tampilkan sumbernya biar datanya valid…
hehehe
oh iya mau nanya, kenapa mesti harus ada star atau delta? beda keduanya apa? beda dari fungsi bukan dari rangkaian…
oh iya poto delta-nya kurang ngerti, coba kabelnya seperti yang star jadinya kan jelas…hehehe